Blitar - Ratusan nelayan pantai selatan, tepatnya Desa Jolosutro, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Kamis, unjuk rasa memrotes penambangan pasir besi yang terus dilakukan, karena merusak alam.

"Kegiatan itu (penambangan pasir besi, red) sangat mengganggu para nelayan. Untuk menyandarkan kapal saja, sudah sangat sulit, karena bibir pantai semakin tergerus," kata koordinator aksi, Moh Trianto di Blitar.

Ia mengatakna, eksploitasi penambangan pasir itu sudah sangat keterlaluan. Selama ini, kegiatan penambangan itu dilakukan secara ilegal.

Para penambang banyak yang tidak mempunyai analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal). Kegiatan itu juga dilakukan sudah bertahun-tahun, hingga dipastikan kondisi alam rusak.

Selama ini, kata dia, warga yang tinggal di pantai selatan Blitar, terutama Pantai Jolosutro, di Kecamatan Wates tersebut adalah nelayan. Pendapatan mereka juga berkurang, karena pendapatan sering digunakan untuk memperbaiki kapal yang rusak, akibat bantaran pantai yang sudah turun.

Massa unjuk rasa di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Blitar. Mereka juga melakukan aksi makan tiwul (sejenis makanan dari olahan ketela pohon, red) bersama.

Aksi ini dilakukan sebagai simbol yang menunjukkan makanan sehari-hari para nelayan adalah timul. Hal ini juga sebagai efek dari penambangan yang membuat usaha para nelayan ini pasang surut, karena bibir pantai yang rusak akibat penambangan pasir.

Sempat terjadi adu mulut dan desak-desakan di antara massa dengan petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Blitar, namun tidak lama. Petugas kemudian memperbolehkan sepuluh orang perwakilan dan diterima anggota dewan.

Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blitar, Edi Masna Nurochman, mengatakan akan menindaklanjuti dari keluhan warga atas penggalian pasir besi tersebut. Pihaknya segera memanggil instansi bersangkutan, untuk memperjelas izin penambangan itu.

"Kami akan panggil instansi terkait masalah ini," kata Edi tegas.

Walaupun tidak puas dengan janji yang diberikan, massa akhirnya meninggalkan kantor dewan. Mereka berjanji akan kembali dengan massa yang lebih besar, dan menuntut agar masalah penambangan itu dihentikan.

Aksi itu sempat memacetkan arus lalu lintas di Jalan A Yani, Kota Blitar. Massa datang dengan menggunakan kendaraan baik roda dua maupun empat dari Taman Makam Pahlawan (TMP) Kota Blitar, tempat berkumpul massa.

Petugas juga berjaga, mengantisipasi aksi itu anarkis. Mereka mengawal hingga aksi itu bubar.