Surabaya - Sebuah pohon kurma tumbuh kokoh di kebun belakang Pondok Pesantren Darussalam, Jalan Nginden II/7 Surabaya.

Sepintas, tak ada yang berbeda dari pohon yang merupakan ciri khas Timur Tengah tersebut. Namun bedanya, di pohon setinggi sekitar 3,5 meter itu muncul buah-buah warna hijau yang jumlahnya ratusan.

Ternyata, di pohon yang tumbuhnya tidak disengaja tersebut tumbuh buah kurma. Sebuah pemandangan yang hampir tidak lazim terjadi di Indonesia, mengingat pohon kurma tidak bisa berbuah di negeri ini.

"Kami juga terkejut saat melihat ada buah di pohon kurma. Padahal biasanya pohon kurma tidak bisa tumbuh buah dan hanya besar pohonnya saja. Ini sebuah anugerah Allah SWT," ujar Ketua Yayasan Pondok Pesantren Darussalam, H. Mahsun Hadji, saat ditemui di kebunnya, Rabu.

Dijelaskan Mahsun, pohon kurma itu masih berusia tujuh tahun. Tumbuhnya pun tidak disengaja. Pohon itu tumbuh dari biji-biji yang dibuang pengasuh pondok pesantren setelah dimakannya.

"Kami meyakini kalau yang membuang biji di kebun itu KH Mas Abdul Muhith, pendiri sekaligus pemilik pondok pesantren. Biasa kan habis makan kurma, terus bijinya di buang di pekarangan belakang," tutur dia.

KH Mas Abdul Muhith sendiri dikenal sebagai tokoh agama di Indonesia. Selama masa penjajahan, ia dikenal sebagai pejuang yang gigih. Kemudian pada masa Orde Lama, Orde Baru hingga era Reformasi, ia berjuang mensyiarkan agama Islam ke seluruh lapisan masyarakat.

KH Mas Abdul Muhith juga aktif sebagai aktifis sekaligus politisi. Era orde lama lalu, namanya termasuk sebagai pengurus Partai Masyumi. Sedangkan di zaman reformasi ini, seiring dengan lahirnya Partai Bulan Bintang (PBB), ia menjadi pengurus di Dewan Pimpinan Wilayah PBB Jawa Timur dan pernah menjabat sebagai Majelis Pertimbangan Partai.

Pada 2002 lalu, ia meninggal pada usia 102 tahun. Selama hidup, KH Mas Abdul Muhith juga dikenal sebagai kiai "sakti".

Kembali ke pohon kurma, Selama tujuh tahun berkembang, pohon tersebut tidak ada yang berbeda dengan tumbuhnya pohon kurma lain. Kebetulan, di perkebunan itu sebelumnya juga kerap tumbuh pohon kurma tapi tidak pernah ada yang berbuah.

Setelah tumbuh, pohon-pohon itu lantas mati. Kemudian pada tahun 2004, ia melihat tumbuh lagi pohon kurma baru yang ternyata berbuah saat ini.

Menurut Mahsun, ratusan buah yang muncul itu baru diketahui pada dua bulan lalu. Ketika itu, di pohon yang batangnya berdiameter 40 sentimeter tersebut muncul biji-biji di atasnya.

Ia kemudian melaporkan kepada saudara dan pengasuh pondok pesantren lainnya dan menganggapnya sebuah keajaiban dari Allah SWT karena telah tumbuh buah di pohon kurma yang tumbuh.

"Tapi kami tidak ramai-ramai mengumumkan kok. Bahkan tetangga sekitar tidak ada yang tahu, jadi tidak untuk dipertontonkan umum," tukas putra ke enam KH Mas Abdul Muhith tersebut.

Selanjutnya, pihaknya tetap akan membiarkan pohon kurma tersebut tumbuh dan membiarkan buahnya di atas pohon.

"Tidak kami apa-apakan, hanya kami jaga supaya tidak mati. Pernah ada buah kurma yang jatuh ke tanah dan saya makan, rasanya manis," kata lulusan Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar, Mesir itu.

Pihaknya mengaku juga tidak akan menghalang-halangi jika ada pihak yang ingin meneliti tumbuhnya buah kurma di Indonesia.

"Silahkan kalau yang mau datang, kami tidak akan menghalangi. Sekarang ini yang penting, pohonnya tetap tumbuh dan buahnya berkembang," ucapnya.*