Jember - Pemanasan global atau "global warming" yang berdampak pada tingginya gelombang laut yang ditandai dengan pemanasan bumi yang tidak wajar akibat populasi pertambahan penduduk, diperparah dengan munculnya kawasan industri baru yang menyebabkan pencemaran udara dan air, menjadi persoalan serius yang harus dicarikan solusinya.

Sebagai upaya untuk menyelamatkan bumi maka pemerintah pusat mencanangkan program Indonesia Hijau dengan gerakan penanaman sejuta pohon, utamanya pada kawasan hutan gundul yang rawan akan bahaya tanah longsor dan banjir pada saat puncak musim penghujan tiba.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah pusat tersebut juga ditindak lanjuti oleh Pemkab Jember, dalam hal ini Kantor Lingkungan Hidup (KLH) terus mencari terobosan untuk menjadikan Jember ijo royo-royo, sehingga paling tidak bisa menimalisasi dampak yang ditimbulkan oleh pemanasan global.

Bahkan KLH Pemkab Jember berencana menghijaukan seluruh wilayah kecamatan di sebagai wujud mengatasi "global warming", langkah tersebut merupakan kelanjutan dari gerakan pencanangan sejuta pohon yang sudah dilakukan di Kelurahan Antirogo, Kecamatan Sumbersari beberapa waktu lalu oleh Bupati Jember Ir MZA Djalal.

KLH sendiri telah memulai langkahnya dengan menghijaukan beberapa kecamatan di Jember, Jumat (5/2), di antaranya adalah Kecamatan Kencong, Gumukmas, dan Balung yakni dengan melakukan penanaman pohon tanjung di ruas jalan utama. Dari data yang ada di KLH Pemkab Jember sebanyak 250 pohon tanjung telah ditanam di Kecamata Kencong, 500 pohon tanjung di Kecamatan Gumukmas, dan Kecamatan Balung 200 pohon tanjung.

Dipilihnya pohon tanjung sebagai program menghijaukan kecamatan di Jember karena pohon tersebut tumbunya tidak terlalu tinggi hanya l,5 meter, sehingga tidak membahayakan bagi para pengguna jalan .

Hal tersebut dikemukakan oleh Drs H.Akhmad Hariadi, MSi, Kepala KLH Pemkab Jember, menurutnya dalam tahun ini pihaknya akan menargetkan 31 kecamatan yang ada di Jember bisa tersentuh seluruhnya oleh pengijauan. Bahkan dua kecamatan lain yakni Mayang dan Silo sudah disurvei oleh KLH, rencananya dalam waktu dekat akan segera dihijaukan dengan tanaman yang sama.

Program Jember Hijau tersebut baru direalisasikan pada tahun 2010 ini, meskipun sudah dianggarkan dalam APBD 2009 karena menungu datangnya musim hujan, sebab tidak mungkin KLH akan melakukan penghijauan disaat musim kemarau yang sulit air.

Diharapkan program Jember Hijau sudah bisa tuntas pada tahun 2010 ini karena bibit pohon tanjung sudah disiapkan oleh KLH, dengan demikian nantinya tidak ada lagi kecamatan di Kabupaten Jember yang tidak hijau lagi. Dari hasil survei yang dilakukan KLH di berbagai kecamatan masih banyak ditemui ruas jalan yang nyaris tidak ada penghijauannya, sehingga terkesan gersang, panas, dan kurang menarik untuk dipandang, ini juga berdampak pada timbulnya pemanasan global di Jember.

"Oleh karena itu, saya mengimbau kepada masyarakat untuk ikut menjaga dan memelihara tanaman tanjung tersebut, sehingga Jember yang hijau tidak hanya tanggung jawab pemerintah saja tapi juga masyarakat," ucap Hariadi berharap.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Jember Drs Agus Slameto, MSi menyambut baik program Jember Hijau yang dilaksanakan oleh KLH dalam rangka mengatasi permasalahan "global warming" di Jember.

Bahkan menurut Agus, dengan menghijaukan seluruh kecamatan tidak hanya merubah perwajahan Kabupaten Jember menjadi lebih hijau, rindang dan asri saja, namun juga berdampak pada tingginya kunjungan wisatawan baik asing maupun domestik di Jember sebagai kota tujuan wisata dengan keindahan alam yang dimiliki, sehingga akan memberi kontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata.(winardyasto)